Thursday, July 25, 2013

Dihadapan Kaabah Ilahi




Berdiri dihadapan Kaabah
Lantas dirimu rebah
Ditemani tangisan lemah
Mencari dimana perginya Allah

Masih dihadapan kaabah itu
Kau mencerap derapan langkah kakimu
Terlihat palitan hitam yang dicipta masa lalu
Lakaran pena hati yang dirajai nafsu

Lalu terbit mentari Iman yang suci
Cuba mewarnai laluan hitam yang berduri
Menerangi derapan langkahan yang menanti
Hatimu kini terisi bunga cinta Ilahi

Namun diluar jangkaanmu
Dihadapanmu tersedia dua perahu
Bagai gelora taufan bertandang dilautan biru
Hatimu gundah jiwamu haru

Caturan takdirmu berubah lagi
Buntu akalmu cuba memahami
Seperti tersedar dari mimpi
Kau menyaksi keajaiban Sang Ilahi

Lalu tertunduk kau menangisi
Bagai tersesat dihutan ciptaanmu sendiri
Merangkak kau mencari petanda hati
Perahu mana harus kau layari

Sukarnya melakar pilihan hati
Lalu kepada Dia kau kembali
Mencari petanda dari yang Maha Mengetahui
Lantas Dia datang memberi erti

Kerana Dia kau menuruti kata hati
Namun ada pula lidah yang tidak mengerti
Melakar kata cemuhan dan keji
Hatimu menangis namun tidak mereka peduli

Disimpang itu kakimu lemah berdiri
Longlai kau mencipta langkah kaki
Lantaran mereka yang tidak mengerti
Disaat itu kau mencari kekuatan Ilahi

Kerna Dia sayang padamu
Kerna Dia dekat denganmu
Kerna itu Dia tetap membantumu
Memimpin tanganmu melakar bahagiamu


Kini kau berdiri pasti
Menunggu dan menghitung hari demi hari
Menoleh kau melihat lakaran takdir Ilahi
Terukir senyuman manis dihati
Akhirnya bahagia datang tidak pergi lagi
Lantas tunduk kau sujud mensyukuri tanpa henti
Kepada Dia yang setia disisi
….
21 Julai 2013 / 1.02am

*specially crafted from my heart for u adik. May Allah guide your way ahead. Indeed u have made a right decision by choosing him instead of him. And Indeed Allah guided u when u made the call. Rejoice and Rejoice!* 




Naina

  
  

Thursday, July 04, 2013

Girang Hati

Terukir riang diwajah mereka
Bermain dan menanti bersama
Walau diri penat berpuasa
Namun azam tetap membara

Penitian di titi ramadhan
Kini melalui pengakhiran
Dihadapan sana kelihatan anak bulan
Mewarnai keriangan semua golongan

Namun terdetik kesedihan dihati
Memikirkan Ramadhan yang bakal pergi
Apa mungkin bertemu kembali
Atau perginya diri menghadap Ilahi

Bertandangnya Syawal membawa berkat
Kesedihan terubat ketawa mengikat
Terjalin silaturahim sesama kerabat
Bermaaf-maafan membawa rahmat

Aidilfitri yang membawa melodi suci
Terpotret indah kejayaan hakiki
Simbolik kasih dan cinta umat ini
Pulang ke fitrah kalam Ilahi

Seusai bertandang sanak keluarga
Bertemu teman yang baru dan lama
Terjalinlah ikatan sesama manusia
Lantas ketenangan meresapi jiwa

Jika Ramadhan kita berpuasa
Kini Syawal kita beraya
Namun didalam girang bergembira

Ingatan juga pada yang tidak berpunya

naina

Monday, June 10, 2013

Kau yang Pergi..



Jauh kau berkelana pergi
Meninggalkan kami bersendiri
Pergimu menuruti Sunnah Ilahi
Apakan daya aku yang kerdil ini

Disini aku setia menanti
Menantimu dari hari ke hari
Apa kita bisa bertaut kembali
Atau takdirnya aku pergi ke Rahmat Ilahi

Khabarnya kau bakal kembali
Teriring bersamamu Nur Abadi
Melodi hatiku girang menyanyi
Lagu syukur dan rindu padamu Rabbi

Namun aku terfikir sendiri
Apa sudah ku bersedia kendiri
Apakah kedatanganmu bakal dirai
Atau aku seperti aku yang dulu lagi

Sungguh kau hadiah Istimewa buat kami
Namun apa aku bisa menghargai
Atau sekadar meriah dilidah bukan dihati
Lantas malu datang berziarah diri

Sungguh aku manusia yang rugi
Jika gagalku menjadi Hamba Rabbani
Sepanjang latihan bersamamu nanti
Tuhan, ku mohonkan kekuatan rohani jasmani

Wahai kau yang bernama Suci
Bertamulah bersama cinta Rabbi
Kerna aku sentiasa menanti
Merindui saat-saat kita bersatu hati

Kalam Cinta Ilahi
Turun indah didalam Bulan Suci ini
Dialah Ramadhan yang sentiasa dirindui
Kemarilah kau, jangan kau pergi

naina

Sunday, May 12, 2013

mother..


For every step I take
For every breath I inhale
For every smile I make
For every success I create
For everything that happen in mylife
It’s all start with your sacrifice in rising me up
The period you carry me in your womb
The moment you deliver me as a healthy baby
The time where you woke up in the middle of night
Just for the sake of me – the little boy who knows nothing
Even if I am blessed with a mountain of gold and silver
I would not able – never – to pay you mother
Even if I give you my own life,
It would not be equal as what you have been given me
From the day I born up until now
Mother,
Indeed these words have no value compare to the love you have been offer to me
But these words are coming from the bottom of my heart
Solely just for you…

Saturday, May 11, 2013

hirisan kata



Terkadang
Manusia yang kau senangi
Manusia yang kau sanjungi
Manusia yang kau hormati
Menjadi manusia yang kau benci
Bukan kerana penyakit hati
Tapi kerana perbuatan jasmani
Mereka yang kau sanjungi
Menjadi tubuh yang mempersenda
Menghina dan mencerca
Segala sesuatu tentang dirimu
Tiadalah dayamu untuk memberontak
Bukan caramu untuk menempelak
Disaat itu kau hanya mampu senyum
Melihat karenah mereka yang jijik
Melakar seribu satu tentangmu
Bersenjatakan lidah yang lembut tidak bertulang
Namun tajam bak belati usang
Menikam hati dan jantungmu
Lantas berdarah
Namun pada mereka kau tiada apa
Mereka hanya menyaksikan senyuman palsu
Yang terukir lesu
Sejujurnya mereka bukanlah manusia itu lagi
Manusia yang kau pernah hormati
Manusia yang pernah kau sanjungi
Manusia yang pernah kau senangi
Disaat itu kau ukirlah Firman Ilahi
Ukirlah disatu sudut akalmu
Agar kau tenteram
Agar hatimu senang
Kerana kau masih ditemani Tuhan


“…dan apabila orang-orang Yang berkelakuan kurang adab, hadapkan kata-kata kepada mereka, mereka menjawab Dengan perkataan Yang Selamat dari perkara Yang tidak diingini”
Al-Furqan, 63

naina


Monday, May 06, 2013

Ceritera Hati



Ceritera hati
Sukar dimengerti
Kasih dan benci
Mewarnai kisah hati

Ditepi kaki lima kotaraya
Dua manusia berbalah kata
Mencerca hina tanpa rasa
Jerkahan suara bertukar nada

Tidak semena-mena
Sesusuk tubuh datang mencela
Merungkai serabut suara mereka
Lunak bicara memadam api membara

Namun, menjadi lumrah alam
Secupak air tidak mampu memadam
Api yang menjulang agam
Ketawa sang iblis melihat telatah anak adam

Namun gaya Hud-Hud yang berani
Susuk tubuh itu terus menghampiri
Mempersaudarakan mereka yang berkelahi
Gaya Ansar dan Muhajirin dizaman Nabi

Sebesar-besar merah api
Pasti surut dibuai Nur Imani
Kerna Penjaga bagi hati-hati insani
Hanyalah Dia, Sang Ilahi

Mereka yang bertegang jiwa
Kini sudah berpeluk bahagia
Berkat susuk tubuh yang berhati mulia
Kini entah kemana perginya
Hilang disebalik mereka yang bergelak tawa

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara keduanya saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh Rahmat”
Al-Hujurat, 10

-naina-